Program BPOM Diharap Berlanjut

  • Whatsapp
Program BPOM Diharap Berlanjut
Sekkab Majene Ardiansyah bersama pimpinan BPOM Mamuju dalam momen evaluasi program di Hotel Villa Bogor Majene, Selasa 30 November 2021. (IST)

MAJENE, SULBAR EXPRESS – Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Mamuju menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) tentang Pelaksanaan Program Nasional BPOM RI.

Mencakup Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD), Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) dan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas (PPABK).

“Kegiatan untuk menggugah komunitas desa, komunitas sekolah dan komunitas pasar agar dapat berdaya, berpartisipasi dan mandiri dalam pembinaan dan pengawasan keamanan pangan di komunitasnya,” urai Kepala BPOM Mamuju, Lintang Purba di Hotel Villa Bogor Majene, Selasa 30 November.

Ia melaporkan, dari hasil kegiatan yang telah berjalan sejak April sampai Desember, yaitu GKPD mengintervensi tujuh desa. Desa Pamboborang, Buttu Baruga, Betteng, Bukit Samang, Tinambung, Sulai dan Desa Onang.

“BPOM Mamuju juga berhasi menjaring 126 kader keamanan pangan dan melakukan pembinaan bagi 350 komunitas melalui kegiatan Bimtek pangan,” paparnya.

Selain itu lanjutnya, terdapat lima industri rumahan berbasis pangan telah memiliki izin edarnya, dan bersiap untuk melakukan produksi massa.

“Untuk program PJAS ada 24 sekolah setingkat Madrasah, SMP dan SMA sederajat telah memiliki sertfikasi sekolah aman,” ulasnya.

Untuk program PPABK dengan pilot project di Pasar Sentral Majene, Lintang Purba menjelaskan, sebelumnya ditemukan pangan yang tidak memenuhi syarat, namun pada sampling kedua dari 708 sampel pangan di pasar, terdapat 662 diantaranya atau 95 persen telah dinyatakan memenuhi syarat.

“Kami sangat berterima kasih, khususnya kepada para pimpinan OPD terkait, yang sudah bekerjasama dengan baik, saya harap kita bersama-sama mewujudkan keamanan pangan yang baik,” harapnya.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Majene Ardiansyah mengapresiasi kegiatan BPOM Mamuju yang telah mendukung penerapan pencapaian rencana Pemerintah Daerah untuk jangka menengah, yaitu ketahanan pangan.

“Dipilihnya Majene menjadi pilot project yang telah mengintervensi 7 Desa, 24 sekolah dan 1 pasar telah memberikan dampak yang signifikan. Namun yang menjadi pertanyaan besar, bagaimana kelanjutan pada yang akan datang?,” paparnya.

Menurutnya, perlu dorongan dinas terkait serta para fasilitator untuk tetap berkomitmen sehingga program tidak berhenti di tengah jalan.

“Kalau kita hanya mengandalkan APBD, maka sangat terbatas, apalagi tahun ini dana transfer pusat berkurang, sehingga dibutuhkan kerja yang ikhlas dan┬átulus,” jelas Sekkab.

Turut hadir dalam kegiatan Monev, para pimpinan OPD terkait, para camat, kepala desa yang diintervensi dan kepala pasar. (hfd/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *