Saeyyang Pattuqdu Mengobati Rindu Kampung Halaman

  • Whatsapp
Saeyyang Pattuqdu Mengobati Rindu Kampung Halaman
Gubernur Ali Baal Masdar dan Gubernur Kaltim Isran Noor menunggang kuda saat menghadiri kegiatan KKMSB. (DOK PRIBADI)

EMPAT ekor kuda memasuki halaman Kantor Desa Gas Alam Badak I, Kecamatan Muara Badak.

Catatan: M Danial

Seketika, perhatian ratusan warga yang berada di bawah dua tenda jumbo tertuju pada kuda dengan hiasan di kepala dan pelana khas.

Beberapa orang mendekati kuda yang dikenal dengan sebutan saeyyang pattu’du (kuda yang pandai menari mengikuti irama rebana) untuk swafoto. “Melihat saeyyang pattu’du, mengobati kerinduan ke kampung halaman,” ujar seorang warga.

Kehadiran saeyyang pattu’du di pelataran kantor desa yang cukup luas itu, menyemarakan pelantikan Badan Pengurus Cabang Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (BPC KKMSB) Kutai Kartanegara, Muara Badak, Kalimantan Timur, Sabtu akhir pekan lalu.

Rangkaian acara pelantikan yang mulai berlangsung, sempat mengalihkan perhatian warga yang sangat antusias melihat saeyyang pattu’du. Diantara mereka, mengakui sudah lebih sepuluh tahun tidak pernah melihat langsung kuda khas Mandar yang selalu menjadi pelengkap acara maulidan.

“Baru melihat lagi sekarang. Makanya, serasa kita ada lagi di kampung halaman,” komentar Abd Razak yang sudah 40 tahun di Muara Badak.

Persembahan beberapa jenis kesenian Mandar, menjadikan pelantikan KKMSB Muara BadakĀ  tidak hanya semarak. Tapi juga membuat terharu sebagian warga. Beberapa orang, harus berulang-ulang menghapus buliran air matanya menyaksikan kesenian dari tanah leluhur: Mandar.

Ketua BPC KKMSB, Ibrahim Kamil menyatakan antusias warga dengan acara kesenian Mandar, terutama saeyyang pattu’du, menjadikan mereka seakan berada di kampung halaman.

“Puluhan tahun tidak sempat ke Mandar, terlebih anak-anak yang memang lahir di sini, adanya saeyyang pattu’du dan beberapa kesenian Mandar yang bisa disaksikan langsung hari ini, mengobati kerinduan kampung halaman,” tuturnya.

Suasana makin semarak, saat dua gubernur yang menghadiri acara pelantikan KKMSB duduk di atas pungggung saeyyang pattu’du. Keduanya, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar dan Gubernur Kaltim Isran Noor, didaulat menunggang kuda pattu’du bersama Ketua KKMSB Kaltim Prof. Masjaya dan Putri Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara.

Antusias warga Mandar dan undangan, saat kuda yang ditunggangi empat tokoh terus menari mengikuti tabuhan rebana khas Mandar. Para pakkalinda’da terus beraksi juga dengan aneka pesan, menyelingi tabuhan rebana.

Ibrahim Kamil setelah puluhan tahun bekerja di Muara Badak, sangat jarang menyaksikan langsung penampilan saeyyang pattu’du. Karenanya, ia sangat mengapresiasi Gubernur Sulbar yang menfasilitasi kedatangan empat saeyyang pattu’du melalui Kadis Pariwisata Sulbar, Farid Wajdi untuk disaksikan warga Mandar di Muara Badak.

Ketua KKMSB Kaltim, Masjaya yang juga Rektor Universitas Mulawarman Samarinda, pun menyatakan terima kasih dukungan Gubernur Ali Baal Masdar mendatangkan saeyyang pattu’du untuk menghibur warga Mandar di tanah rantau, khususnya di Muara Badak.

Gubernur Sulbar menyampaikan terima kasih kehadiran sejumlah tamu pada acara KKMSB di Muara Badak. Termasuk Gubernur Kaltim Isran Noor.

Soal Saeyyang Pattu’du’, katanya, merupakan salah satu kekayaan budaya dan kesenian di Sulbar serta beberapa kebudayaan yang lainnya, seperti Perahu Sandeq yang diharapkan ke depan dapat terus mendorong sektor keariwisataan.

“Kita datangkan saeyyang pattu’du kesini (Kaltim) supaya ke depan saeyyang pattu’du’ makin dikenal sebagai potensi wisata,” ujarnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *